THE NEW RULERS OF THE WORLD A SECIAL REPORT




pembuat judul: JOHN PILGER

Penulis ulang: AMIRUDDIN NAIBAHO

Hampir  jutaan orang  yang menentang aksi ini tentang tata ekonomi masa kini  di era globalisasi pada tahun 1990 yang hidupnya kaya bertambah kaya dan yang miskin bertambah/tetap miskin dan semua itu tertuju disatu Negara yang terlihat dari kaca mata dunia perekonomian bahwa Indonesia termasuk penjajah dinegaranya sendiri, sehingga cerita ini menceritakan  penguasa baru dunia yang terkhusus pengaruhnya bagi sebuah negara yaitu INDONESIA.
Apa yang terjadi di depan mata kita adalah membuktikan bahwa Indonesia ini belum bisa dikatakan sebagai Negara maju bahkan justru dinegara ini yang terjadi hanyalah mimpi-mimpi yang diiming-imingkan para pemerintah yang berkuasa. Pemimpin industri besar katanya yang menjanjikan sebuah kesejahtraan, tapi meraka kejam karena mereka hanya menjanjikan kesejahteraan di mana-mana setiap orang bisa sukses  dari masa muda. Jadi kamipun hidup dalam baying-bayangan itu untuk merasakanya. Hampir jutaan orang  yang menentang aksi ini tentang tata ekonomi masa kini  di era globalisasi pada tahun 1990.
Pada saat itu hampir 70 juta rakyat hidup dalam keadaan teramat miskin. Dan bisa dikatakan sebuah penyiksaan, para pemburuh  yang membuat celana, seputu, yang bekerja yang hanya di upah Rp 9000 perhari upah yang sangat minimum, bagaimana dengan anak-anak yang kekurangan gizi dan terkena penyakit menular bisa diobati dan diberi gizi yang cukup, padahal mereka para pemerintah mengatakan “pemuda-pemudilah yang menetukan maju atau tidaknya suatu Negara” bagaiman cara maju sedangkan anak muda-mudi bisa dilihat kurang dari segala kekurangan. Pabrik-pabrik yang tampak modern tapi di dalamnya terdapat banyak wajah-wajah mereka yang kelelahan seperti keadaan terpaksa untuk berkerja dan mereka berkerja  dalam 24 jam, mereka hanya ada waktu untuk beristrahat hanya 2 jam, mungkinkah itu bisa dikatakan rakyat sejahtera.?


Perusahaan  mempunyai aturan atau  undang-undang, undang-undang itu beralasan untuk melindungi para pemburuh padahal mereka tidak memberlakukan sama sekali undang-undang itu, tetapi mereka hanya melakukannya untuk cara menyiksa rakyat Indonesia terutama para pemburuh.
Karena buruh sudah sedemikian miskin dan jumlah penganggurannya pun semakin tinggi dan meningkat, mereka mau berkerja apa saja yang penting halal dan bisa untuk bertahan hidup. Sementara perusahaan mencari sebuah kesempatan untuk menyiksa para pemburuh Indonesia. Sangat menyedihkan sekali jika kita lihat  dari sisi waktu yang  di berikan perusahaan kepada para buruh, waktu yang sangat minim sekali, yaitu 63 jam dalam 1 minggu dan mereka istirahat hanya 2 jam dalam  dalam waku 24 jam. Para pemburuh terpaksa menguras habis tenaga  untuk berkerja keras dalam satu hari, demi sebuah kehidupan yang damai walaupun belum cukup sempurna.



Saya rasa ini juga perbuatan yang sangat tidak adil dari perusahaan untuk para buruh dengan  harga yang sangat minim sekali dari harga  Rp112.000 untuk  celana yang bermerek,  seorang buruh hanya mendapatkan Rp500 rupiah saja, buruh juga berkerja keras demi sebuah kehidupan walaupun dengan keterpaksaan dan kelelahan mereka membuat celana minimum 3000 celana dalam waktu 1 hari. “saya tidak takut berkerja keras, saya tidak takut mati, tapi sungguh saya tidak rela bekerja untuk orang-orang serakah”. Jika kita lihat dan renungi kata-kata ini seolah-olah itu adalah keluhan para buruh yang harus membanting tulang demi  memberi makan orang –orang yang serakah.
Dapat dikatakan bahwa Indonesia semakin gelap semua pembangunan gedung-gedung mewah, hotel-hotel mewah, pabrik-pabrik, semuanya hasil dari pembunuhan massal 1 juta manusia. Sungguh ini sangat  tragis sekali bahkan ini bisa jadi sebuah sejarah yang tidak bisa di lupakan  pada masa itu sampai detik ini bagi orang-orang yang mengetahuinya. Karena pada masa itu mereka membunuh guru-guru, murid-murid dan petani ini merupakan pembantaian terkejam pada abad 20 ini. Peristiwa ini masih mistri dan tersembunyi dan peristiwa yang mengantarkan Suharto ke puncak kekuasaan.
Bahkan duta besar inggris menganjurkan ”tembakan kecil dari perubahan yang baik”. Ini salah satu cara untuk menyiksa rakyat Indonesia yang di anjurkan  duta inggris  kepada Suharto untuk rakyat Indonesia. Indonesia hanya bisa balas kekejaman dengan senyuman dan mereka membuat sebuah hukum  demi keuntungan mereka, indonesia mereka jadikan pasar senjata untuk kepentingan Amerika barat dan untuk membunuh rakyat indonesia itu sendiri.
Suharto sebagai pembunuh berdarah dingin yang rela membunuh rakyatnya demi kekuasaan, rakyat miskin di jadikan alat untuk membayar hutang Negara dan Suharto memberikan hasil rampasan uang rakyat, kepada keluarga, kerabatnya. Bank dunia di jadikan sebagai alat untuk menyiksa rakyatnya, globalisasi banyak menimbulkan hutang, rakyat membayar mahal demi mendapatkan pendidikan dan kesehatan, penindasan rakyat semakin meningkat. Semua itu diciptakan oleh Negara. keluarga hanya bisa bertahan hidup dengan Rp18.000 perhari.
Bekerja sama dangan bank dunia yang menyatakan penghapusan hutang, akan tetapi hal itu keliru, hutang adalah hal biasa dalam sebuah kehidupan, penghapusan bukan untuk mensejahtrakan rakyat meraka juga mengatakan hutang bukan penyebab kemiskinan bahkan pemerintah menghilangkan HAM. Pemerintah mencabut berbagai subsidi bukan hanya minyak dan listrik akan tetapi juga air, pendidikan dan pertanian mereka menyembunyikan sebuah kebenaran, rakyat kaya semakin kaya dan rakyat miskin semakin miskin. Dengan keberhasilan soeharto Amerika barat menghadiahkan Suharto untuk jalan ke London atas kesusesannya menyiksa rakyat Indonesia. Sangat tidak berprikemanusiaan cara kepemimpinannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pengaruh perbedaan qira’at terhadap penetapan hukum

ALQUR’AN