TAFSIR TAHLILI TAFSIR AL-QUR’AN DENGAN AS-SUNNAH

DOSEN PEMBIMBING : SAFRUDIN EDI WIBOWO LC. MA

FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH JURUSAN ILMU
ALQURAN DAN TAFSIR
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER
TAHUN 2014


 KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami membahas mengenai Tafsir Al-Qur’an dengan As-Sunnah.
Makalah ini dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. 
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian. 


Jember, 20 November 2014


Penulis

 


DAFTAR ISI

BAB I
BAB II
2.1.  Bagaiman Kandungan Surah Al-Ahzab Ayat 24….…….………………...6
    2.2.  Bagaiman Kandungan Surah Al-Ahzab Ayat 25……….………………..10 
BAB III








BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah.
Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan oleh Allah swt. kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad saw. untuk dijadikan sebagai pedoman hidup. Petunjuk-petunjuk yang dibawanya pun dapat menyinari seluruh isi alam ini. Sebagai kitab bidayah sepanjang zaman, al-Qur’an memuat informasi-informasi dasar tentang berbagai masalah, baik informasi tentang hukum, etika, kedokteran dan sebagainya.
Hal ini merupakan salah satu bukti tentang keluasan dan keluwesan isi kandungan al-Qur’an tersebut. Informasi yang diberikan itu merupakan dasar-dasarnya saja, dan manusia lah yang akan menganalisis dan merincinya, membuat keautentikan teks al-Qur’an menjadi lebih tampak bila berhadapan dengan konteks persoalan-persoalan kemanusiaan dan kehidupan modern.


       B. Rumusan Masalah
  Adapun rumusan masalah dalam makalah materi kulasi ini adalah :
1.      Bagaiman Kandungan Surah Al-Ahzab Ayat 24?
2.      Bagaiman Kandungan Surah Al-Ahzab Ayat 25?

    

      C. Tujuan Penelitian

1.      Untuk Mengetahui Kandungan surah Al-Ahzab Ayat 24.
2.      Untuk Mengetahui Kandungan surah Al-Ahzab Ayat 25.


BAB II
PEMBAHASAN

2Surah Al Ahzab Ayat 24
Artinya : agar Allah memberi balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan mengazab orang munafik jika Dia kehendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah  maha pengampun, maha penyayang.

Tafsirannya:
Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya yaitu kebenaran dalam ucapannya, dalam keadaannya, serta hubungan mereka dengan Allah, dan samanya keadaan luar dan dalam mereka. Dan mengazab orang munafik Yang hati dan amal mereka berubah ketika terjadi fitnah, serta tidak memenuhi janji mereka kepada Allah. Jika Dia kehendaki Yaitu dengan mencabut nyawanya di atas kemunafikan dan tidak memberinya hidayah, karena Dia mengetahui tidak ada lagi kebaikan dalam hati mereka. atau menerima tobat mereka Dengan memberi mereka taufik untuk bertobat dan kembali. Inilah yang biasa terjadi dalam kepemurahan Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Oleh karena itulah.

Dia mengkahiri ayat ini dengan dua nama-Nya yang menunjukkan kepada ampunan, karunia dan ihsan-Nya, Allah Maha Pengampun Dia mengampuni dosa orang yang melampaui batas meskipun banyak dosanya, jika mereka bertobat. Maha Penyayang Dia memberi mereka taufik untuk bertobat, lalu menerimanya dan menutupi dosa yang mereka lakukan.[1]

Tafsirannya:
Allah akan memberikan pahala kepada orang-arang yang benar di antara mereka pahala kebenaran mereka di dalam menunaikan janji yang telah mereka ikrarkan kepada Allah, dan Dia mengazab orang munafik, yaitu mereka yang telah merusak perjanjian ini dan yang menentang perintah-perintahNya, bila mereka masih tetap dalam kemunafikannya hingga mereka bertemu dengaNya nanti. Dan apabila mereka bertaubat serta meninggalkan kemunafikan mereka, lalu mereka mengerjakan amal-amal shaleh, maka Allah mengampuni kejelekan-kejelekan mereka yang terdahulu dan dosa-dosa yang telah mereka kerjakan di masa lalu.[2]

Di sini kita pun mendapat lagi dua rahasia ayat. Rahasia pertama ialah orang yang berbuat jujur karena timbul dari lubuk jiwa yang memang jujur, pasti akaan mendapat ganjaran yang mulia di sisi Allah. Berbuat jujur karena orangnya memang jujur jauh berbeda dengan orang yang dipaksa oleh keadaan berbuat jujur, padahal dalam lubuk hatinya kejujuran itu tidak ada.
Maka tidaklah kurang orang yang berbuat serupa jujur, padahal hatinya tidak jujur ,Ini pun munafiq. Lama kelamaan rahasia itu akan terbuka juga.

Rahasia yang kedua ialah "dan akan diazab-Nya orang-orang yang munafiq itu jika Dia kehendaki". Suku ayat ini pun sejalan dengan yang sebelumnya. Mentang-mentang orang berbuat perbuatan munafiq, tidaklah langsung saja Allah terus mengazabnya.
Pengazab hanya berlaku sesudah pertimbangan kebijaksanaan dari Tuhan. Ada juga orang berbuat sebagai perbuatan munafiq yang tercela karena belum ada pengalaman. Ingat sajalah peperangan di Uhud yang nyaris kalah itu. Beliau perintahkan 50 orang menjaga di lereng bukit Uhud dan sekali-kali jangan meninggalkan tempat itu walaupun musuh kelihatan telah terdesak mundur.
Karena menurut pertimbangan siasat per­juangan beliau pertahanan di lereng Uhud itu adalah kunci.

Tetapi setelah yang bertahan di lereng bukit itu melihat musuh telah mundur dan harta rampasan telah berserak-serak, mereka tidak tahan lagi, lalu mereka langgar perintah Rasulullah karena ingin harta rampasan. Akhirnya tempat penting itu dapat direbut oleh tentara Musyrikin, yang kebetulan di waktu itu di bawah,pimpinan Khalid bin Al-Walid.
Kalau menurut tinjauan kasar saja, yang meninggalkan pertahan­an itu di bawah pimpinn seorang shahabat yang bernama 'Abdullah bin Jubair , patutlah terus dihukum Tuhan , karena perbuatan mereka itu terang-terang perbuatan orang munafiq.
Memang mereka patut dihukum menurut tinjauan sepintas lalu. Tetapi keputusan sebenarnya adalah di sisi Allah , menurut kehendak-Nya. Dan kebijaksanaan itu dijalankan oleh Rasulullah. Tidak mustahil mereka menyesal , lalu beriman sesudah munafiq , atau beramal shalih sesudah fasiq dan durhaka, sedang sifat Allah yang disebut Rahmat dapat mengalahkan sifat-Nya yang bernama ghadhab atau murka. Sebab itu di ujung ayat dijelaskan sifat Tuhan itu “Sesungguhnya Allah adalah Maha Pemberi Ampun, Maha Penyayang."[3]

Munasabahnya: 
Bahwasanya orang yang berbuat jujur, memang karena timbul dari dasar jiwanya yang memang jujur, pastilah dapat ganjaran yang mulia di sisi Allah. “Dan akan diazabnNya orang-orang yang munafik itu jika Dia kehendaki.” 



2.2  Surah Al Ahzab Ayat 25
Artinya: Dan Allah menghalau orang-orang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, karena mereka (juga) tidak memperoleh keuntungan apa pun, cukuplah Allah (yang menolong) menghindarkan orang-orang mukmin dalam peperangan . dan Allah Mahakuat, Mahaperkasa.

Asbabul nuzulnya:
Sa’id bin Abi Sa’id berkata, pada saat perang Khandaq kaum Musrikin telah melalaikan kami dari sholat dzuhur sehingga matahari terbenam, dan itu terjadi sebelum diturunkan (perintah shalat khauf) dalam peperangan. HR ibnu Jarir.[4]

Tafsirannya:
Dan Allah menghalau orang-orang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, karena mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun, Allah mengembalikan mereka dalam keadaan kecewa, apa yang mereka harapkan tidak tercapai me iiiiiiivcskipun mereka telah menyiapkan segala sesuatunya, mereka dibuat bangga dengan pasukannya serta bergembira dengan perlengkapan dan jumlahnya. Allah mengirimkan kepada mereka angin kencang (yaitu angin timur) yang menggoncang markaz mereka, merobohkan kemah-kemah mereka, membalikkan periuk mereka, membuat mereka cemas, dan Allah masukkan ke dalam hati mereka rasa ketakutan sehingga mereka pun pulang dalam keadaan jengkel. Ini termasuk pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Cukuplah Allah (yang menolong) menghindarkan orang-orang mukmin dalam peperangan Maksudnya orang mukmin ketika itu tidak perlu berperang, karena Allah telah menghalau mereka dengan mengirimkan angin dan malaikat.. Dan Allah Mahakuat Untuk mewujudkan apa yang Dia inginkan. lagi MahaperkasaBerkuasa terhadap perintah-Nya. Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki kekuatan dan keperkasaan tidaklah bermanfaat kekuatan dan keperkasaannya itu jika Allah tidak menolong mereka dengan kekuatan dan keperkasaan-Nya.[5]
Maka kami kirimkan kepada mereka angin besar dan bala tentara yang tidak dapat kalian melihatnya, lala kami kembalikan orng-orang kafir kepada Allah dan Rosul-Nya dari kabilah Quraisy dan Gathafan dengan membawa kekecewaan meeka karena tidak dapat mencapai kemenanganyang mereka harap-harapkan atas Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Akhirnya, mereka kembali dengan tangan hampa tanpa memperoleh ghanimah atau tawanan. Dan kaum Mu’minin tidak capai lagi untuk bertarung melawan mereka, untuk mengusir mereka dari negerinya, tetapi Allah telah mencukupi orang- orang beriman dari memerang mereka, Dia telah menolong hamba-Nya (Nabi Muhammad) dan memenangkan tentara-Nya serta mengalahkan golongn-golongan yang bersekutu dengan sendirian, maka tidak apa-apa lagi setelah itu.[6]

Dalam tafsir al Azhar di jelaskan
Niscaya sakitlah hati mereka karena kegagal­an itu. Sudah lebih dari 10.000 orang datang hendak menyerbu. Disangka semula akan mudah berhasil, rupanya gagal sama sekali. Sesama sekutu pecah pula sebelum maksud tercapai. Dalam ayat ini dikatakan "Wa Raddal-Laahu", kita artikan diusir kembali oleh Allah. Arti ini lebih tepat daripada jika kita katakan "dikembalikan oleh Allah".
Dengan pengusiran kembali ini temyata pula hikmat Allah terhadap da'wah yang dipikulkan kepada pundak Nabi-Nya yang mulia Muhammad saw: Yaitu begitu jahat maksud mereka, hendak menghancurkan Islam di pangkalnya sendiri, kota Madinah, namun mereka hanya semata-mata diusir kembali saja, tidak dimusnahkan.

Didatangkan angin keras menumbangkan khaimah dan tenda-tenda mereka, menimbun air yang sedang mereka masak dengan debu yang bangkit ke udara, maklumlah padang pasir. Api dinyalakan tidak jadi nyala, karena dihembus angin keras sebelum nyala.
Kalau Allah menghen­daki bisa saja semua mereka itu hancur dihantam angin sebagai telah dilakukan Tuhan dengan qaum Tsamud, atau ditimpa dengan batu dari sijjil yang dibawa burung Ababill, sebagai yang diderita Abrahah yang datang hendak meruntuhkan Ka'bah. Namun kebijaksanaan Tuhan da­lam hal ummat dan kaum ini jauh lebih lunak. Tuhan telah bersabda: "Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, padahal engkau tengah berada pada mereka". ( AI-Anfaal ,ayat33)

Mereka diusir saja kembali ke tempat masing-masing, Ghathfaan pulang ke Ghathfaan dan Quraisy pulang ke Mekkah dengan hati sakit, sebab maksud tidak tercapai.

لَمْ يَنالُوا خَيْراً "Tidak memperoleh yang baik".

Tidak memperoleh barang yang baik yang mereka inginkan. Yaitu kemenangan dan harta rampasan, yang akan dibanggakan dan dibawa pulang dengan sorak sorai. Tidak kebaikan dunia, apatah lagi tidak kebaikan akhirat. Yang mereka peroleh hanya sakit hati, payah, lelah, penderitaan, kehabisan persediaan makanan dan penyesalan.
Tetapi hikmat Allah yang Maha Tinggi hanya semata-mata dengan mengusir, tidak dengan memusnahkan.dan akan mengazab yang munafiq jika Dia kehendaki telah membawa perkembangan yang baik. Sebagian besar dari penyerang-penyerang yang gagal itu kemudiannya akan masuk Islam dengan hati terbuka.

Di antaranya ialah Khalid bin AI-Walid yang nyaris mengalahkan Nabi di Uhud itu, kemudian telah maju langkah dalam menegakkan Iman dan memba­ngun Islam, sehingga mendapat gelar "Saifullah". Pedang Allah !

وَ كَفَى اللهُ الْمُؤْمِنينَ الْقِتالَ "Dan Allah menghindarkan peperangan dari orang-orang- yang beriman".

Karena parit (khandaq) telah mempertahankan mereka dan angin puyuh yang hebat telah mengusir kembali musuh-musuh mereka. Sehingga orang-orang yang beriman itu tidak sampai berperang.

وَ كانَ اللهُ قَوِيًّا عَزيزاً "Dan Allah adalah Maha Kuat, Maha Perkasa". (Ujung ayat 25).

Kekuatan Tuhan kelihatan dengan angin hebat yang datang mengguling dan menghancurkan segala persediaan mereka. Keperka­saan Tuhan jelas dengan larinya mereka meninggalkan tempat itu dengan semangat yang telah patah. Mereka bertemu dengan kekuatan yang walaupun seluruh kekuatan hendak mereka kumpulkan buat membendungnya tidaklah akan berhasil. Dan sejak itu pula mulailah pamor Quraisy menurun. Kalau selama ini mereka yang selalu menyerang, dan kaum Muslimin bertahan, maka mulai waktu itu merekalah yang bertahan dan Islamlah yang menyerang. 
Waktu itulah dengan tegas Rasulullah saw. bersabda:
"Sejak kini kitalah yang mulai, dan mereka tidak akan menyerang kita lagi."(Dirawikan oleh Bukhari)[7]



[2])  Ahmad Mustofa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi,  CV. Toha Putra, Semarang  1989  hlm 280

[3] Prof. Dr Hamka “tafsir Al Azhar” Jakarta pustaka panjimas 1988 hal 231
[4] Mushaf al hilal Qur’an hal 421
[6]) Ahmad Mustofa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi,  CV. Toha Putra, Semarang  1989  hlm 281

[7] Prof. Dr Hamka “tafsir Al Azhar” Jakarta pustaka panjimas 1988 hal 231-233

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pengaruh perbedaan qira’at terhadap penetapan hukum

ALQUR’AN