SEMIOTIKA AL-QUR’AN Metode dan Aplikasi Terhadap Kisah Yusuf


REVIEW BUKU SEMIOTIKA AL-QUR’AN
Oleh: Amiruddin Naibaho
Nim: 082142084
Kelas: Q2 IAT Ushuluddin IAIN Jember
Semester: IV (empat)
Mereview Buku SEMIOTIKA AL-QUR’AN Metode dan Aplikasi Terhadap Kisah Yusuf
Penulis: ALI IMRON M.S.I
Al-Qur’an adalah kitab sastra yang sangat bagus dan memungkinkan untuk dijadikan bahan kajian dalam kajian semiotika, karena didalam al-Qur’an khususnya terdapat dalam kisah-kisah yang ada dalam al-Qur’an itu ada kajian yang disebut dengan penanda dan petanda. Didalam buku yang ditulis oleh pak Ali Imron. M.S.I bahwa beliau mengatakan ada banyak pesan-pesan dalam kandungan al-Qur’an yang harus disampaikan kepada masyarakat agar mereka juga paham bahwa al-Qur’an itu adalah petunjuk kepada seluruh umat manusia walaupun petunjuk itu berupa kisah para Nabi ataupun orang-orang sholeh.
Semiotika ini bukanlah satu-satunya ilmu bantu untuk memecahkan pesoalan yang ada dalam al-Qur’an namun ilmu ini hanya sebagai jalan menuju ilmu bantu itu sendiri karena ilmu ini bisa saja salah namun tidak pula menafikan kebenaran yang terungkap oleh ilmu ini, karena memang ilmu ini menggunakan pendekatan-pendekatan berdasarkan kitab-kitab sastra yang dibuat oleh alim ulama islam, tanpa ada kitab-kitab sastra ini maka kajian semiotika ini bisa dikatakan kurang diminati atau diperhatian, bukan hanya karena ilmu ini dipelopori oleh kaum barat tapi juga tidak ditemukan secara dzohir kala itu pada zaman Nabi, Sahabat, dst, tetapi ciri-ciri ilmu ini telah terdeteksi disebagian kalangan baik itu sahabat seperti Umar bin Khattabmaupun sahabat yang lain maka inilah  perlu diteliti oleh para pencari ilmu.
Kenapa al-Qur’an ditafsirkan dengan semiotika? Karena masih ada yang mengandung rahasia, dengan melakukan pendekatan semiotika maka makna yang dimaksud dapat kita pahami dengan pengetahuan yang kita ketahui. Contohnya saja dalam kisah Surat Yusuf dengan frase la ta’manna, menurut ilmu tajwid frase ini bibaca isyma, yaitu dengan cara mencampurkan fathan dengan dammah, didalam membaca gunnah nun tasydid. Cara membacanya berbeda dengan cara membaca kata-kata dalam al-Qur’an yaitu sedikit memonyongkan bibir diakhiri seakan tersenyum jadi bacaannya dari la ta’manna sehingga seperti la ta’manuna, merupakan penanda yang mana disana ada unsur kebohongan yang diucapkan oleh putra-putra Nabi Ya’qub as ketika mereka mengatakan bahwa Nabi Yusuf as telah diterkam oleh binatang buas, padahal yang sebenarnya mereka (putra-putra) Nabi Ya’qub as membuangnya kedalam sumur, tetapi Nabi Ya’qub as tidak percaya dengan kata-kata mereka.
Semiotika merupakan ilmu yang mengkaji tanda, baik sistem tanda maupun produksi tanda. Sementara itu, tanda itu adalah segala sesuatu yang bisa dipakai sebagai pengganti sesuatu yang lain secara signifikan. Perlu diketahui bahwa semiotika ini tidak hanya mengkaji hubungan antara penanda dan petanda, tetapi secara lebih jauh lagi mengkaji bagaimana suatu tanda itudigunakan untuk komunikasi. Pierce memiliki peran penting untuk mengungkap pesan-pesan secara berorientasi untuk menitikberatkan pada ranah komunikasi. Komunikasi disini ialah berbicara mengenai hal-hal yang terkandung dalam al-Qur’an.
Bahasa dan sastra adalah dua hal yang harus dikuasai oleh para ilmuan untuk menemukan apa yang dicari dalam pemahaman untuk mengetahui sebuah makna, setiap makna yang berarti tulisan arabnya atau teks aslinya itulah sebagai tanda dan penanda adalah apa yang disampaikan pesan dalam tanda. Contohnya seperti ini:
إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَباً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ -٤- قَالَ يَا بُنَيَّ لاَ تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيْداً إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلإِنسَانِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ -٥- وَكَذَلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأْوِيلِ الأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَى أَبَوَيْكَ مِن قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ -٦-
(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”
Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.”
Dan demikianlah, Tuhan Memilih engkau (untuk menjadi Nabi) dan Mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi dan Menyempurnakan (nikmat-Nya) kepadamu dan kepada keluarga Ya‘qub, sebagaimana Dia telah Menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang kakekmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sungguh, Tuhan-mu Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. Dan demikianlah, Tuhan Memilih engkau (untuk menjadi Nabi) dan Mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi dan Menyempurnakan (nikmat-Nya) kepadamu dan kepada keluarga Ya‘qub, sebagaimana Dia telah Menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang kakekmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sungguh, Tuhan-mu Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.(Q.S. Yusuf {12}: 4-6)
Fragmen Yusuf bermimpi dimulai dari ayat keempa sampai ayat keeman. Ceritanya diawali tentang mimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan sujud padanya.dari cerita ini kita ketahui pertama Allah ingin menjadikan Nabi Yusuf as ahli dalam ta’wil mimpi dan juga pemimpin agama sekaligus negara. Dan kita ketahui pula kalau dersujudnya sebelas bintang, matahari, dan bulan itu merupakan pertanda penting yang sengaja disampaikan melalui mimpi. Jelasnya ilmu semiotika ini bisa dianggap sebagai ilmu yang mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan atau konvensi yang memungkinkan suatu tanda yang memiliki arti dan ilmu ini dimotori oleh Ferdinand de Saussure disebut dengan semiotika signifikasi yang mengkaji tanda, atau hubungan antara penanda dan petanda dan oleh Charles Sanders Pierce disebut dengan semiotika komunikasi yaitu mengkaji, sebagaimana yang ditwarkan oleh pierce diletakkan pada aspek komunikasi, yaitu sejauh mana tanda-tanda digunakan sebagaiwahana komunikasi.
Pembacaan semiotika tidak hanya menganalisis tanda-tanda dan mencari tingkatan makna yang ada. Sesuai dengan kajian komunikasi oleh pierce, tanda-tanda itu juga termasuk wahana untuk komunikasi sehingga pesan-pesan yang ada didalamnya tertangkap dengan mudah dipahami dan tidak ada lagi makna-makna yang tersembunyi didalamnya. Pesan-pesan itu adalah kesabaran, etika, sikap optimis, dekwah, ekonomi, hukum dan kekuasaan Allah. Pesan-pesan inilah yang diceritakan melalui media yang tersedia di al-Qur’an tepatnya disurah Yusuf, kisahnya Nabi Yusuf as.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pengaruh perbedaan qira’at terhadap penetapan hukum

ALQUR’AN