WAWANCARA KRISTEN PROTESTAN DI JEMBER

Dosen pembimbing: Dr. IMAM BONJOL. M. Si


Disusun oleh:

Asmul Wakil (082142089)
Amiruddin Naibaho (082142084)

PROGRAM STUDI ILMU AL-QURAN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN HUMANIORA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER




BAB I
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang
Protestanisme adalah sebuah mazhab dalam agama Kristen. Mazhab atau denominasi ini muncul setelah protes Martin Luther[1] pada tahun 1517 dengan 95 dalilnya. Kata Protestan sendiri diaplikasikan kepada umat Kristen yang menolak ajaran maupun otoritas Gereja Katolik. Kata ini didefinisikan sebagai gerakan agamawi yang berlandaskan iman dan praktik Kekristenan yang berawal dari dorongan Reformasi Protestan dalam segi doktrin, politik dan eklesiologi, melawan apa yang dianggap sebagai penyelewengan Gereja Katolik Roma. Merupakan satu dari tiga pemisahan utama dari "Kekristenan Nicaea (Nicene), yaitu di samping Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks. Istilah "Protestan" merujuk kepada "surat protes" yang disampaikan oleh para pembesar yang mendukung protes dari Martin Luther melawan keputusan Diet Speyer pada tahun 1529, yang menguatkan keputusan (edik) Diet Worms yang mengecam ajaran Martin Luther sebagai ajaran sesat (heretik).
Pada kenyataannya, gerakan Reformasi Protestan yang dilakukan oleh Martin Luther bukanlah yang pertama kali terjadi di kalangan Gereja Katolik, sebab sebelumnya sudah ada gerakan-gerakan serupa seperti yang terjadi di Perancis yang dipimpin oleh Peter Waldo (dan kini para pengikutnya tergabung dalam Gereja Waldensis) pada pertengahan abad ke-12, dan di Bohemia (kini termasuk Ceko) di bawah pimpinan Jan Hus atau Yohanes Hus (1369-1415).
Gereja Waldensis banyak terdapat di Italia dan negara-negara yang mempunyai banyak imigran dari Italia, seperti Uruguay. Sementara para pengikut Yohanes Hus di Bohemia kemudian bergabung dengan Gereja Calvinis. Pada 2005, sekitar 5,9%–14.276.459 jiwa dari 241.973.879 penduduk Indonesia, beragama Protestan dan sensus tahun 2010 sekitar 6,96%- 16.528.513 jiwa. Karena pengaruh para misionaris dari Belanda dan jerman, kebanyakan gereja Protestan di Indonesia sangat diwarnai oleh ajaran Calvin, dan sebagian lagi mempunyai corak Lutheran. Meskipun doktrin dari denominasi-denominasi Protestan jauh dari seragam, ada beberapa keyakinan yang tersebar pada Protestantisme yaitu doktrin sola gratia, sola fide, dan sola scriptura.
v  Sola gratia berpegang bahwa keselamatan merupakan anugerah dari tuhan. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.
v  Sola fide berpegang bahwa keselamatan yang datang hanya melalui iman di dalam Yesus sebagai Kristus, bukan melalui perbuatan baik.
v  Sola scriptura mempertahankan bahwa Alkitab (bukan tradisi gereja atau interpretasi gerejawi dari Alkitab) adalah sumber otoritas final untuk semua orang Kristen.
Gereja-gereja Protestan umumnya menolak doktrin Katolik dan Ortodoks mengenai pewarisan apostolik dan pelayanan sakramental dari klerus. Kecuali yang ditemukan pada banyak negara, seperti di bagian selatan Eropa, yang berada di bawah pengaruh non-Katolik jauh sebelum Reformasi.
Namun penulis disini berusaha menjelaskan, khusus pada kristen Protestan yang ada di Jember, baik mengenai sejarah masuknya, visi dan misi, dakwah terhadap jemaatnya, dll.
B.                 Rumusan Masalah
1.              Bagaimana sejarah masuknya kristen Protestan ke Jember?
2.              Bagaimana visi dan misinya?
C.                 Tujuan Masalah
1.              Mengetahui sejarah masuknya kristen Protestan ke Jember.
2.              Mengetahui visi dan misinya.


BAB II
PEMBAHASAN
A.                Biografi Pendeta Nico Jember
Pendeta Nico lahir di Makasar 18 Desember 1970 dan Pendeta Nico tinggal Ambon yang ditugaskan di Jember sebagai Pendeta untuk menggembala Umat, yang kurang lebih 4 tahun dijember. Pendeta Nico mutasi dari Bandung pindah ke Jember dan bulan januari akan mutasi dari Jember ke Samarinda. Setelah Pendeta Nico akan ada pendeta yang akan menggantikannya nanti yaitu Pendeta dari Bali. Pendeta Nico adalah sebagai pendeta yang telah Empat (4) kali menggembalakan Jemaat yaitu,
*        Jemaat di Kalimantan Barat-Ketapang, Maro.
*        Jemaat di Lampung selama 5 Tahun.
*        Jemaatnya di Bandung 2 Tahun 6 Bulan.
*        Jemaatnya di Jember, hingga Sekarang.
Dikaruniai 3 anak dari 1 istri. Beliau menyelesaikan pendidikannya dari SD hingga jenjang perguruan tingginya ditempat kelahirannya, Makassar. Ketika ditugasi menjadi penggembala Umat beliau berpindah-pindah dari tempat ketempat lain untuk menyebarkan Injil. Jember adalah tugasnya yang keempat sebagai pendeta dan mendiami rumah Dinas GETSMANI Jember.

B.                 Sejarah Kristen Protestan di Jember
Gereja GETSMANI Jember adalah peninggalan Belanda dengan dukungan PTP yang didirikan pada tanggal 11 November 1934, dan akhirnya diserahkan untuk dipakai oleh masyarakat Indonesia khususnya Jember, sebagai saksi bahwa dulunya Belanda pernah ke Jember. Upawati adalah orang pertama yang mendapat mandat penyerahan gereja GETSMANI Jemberyang baru meninggal pada tahun lalu, yang umurnya hingga 93 tahun yang menjadi saksi hidupnya ketika penyerahan Gereja itu.
Warga jember yang menjadi jamaat di Gereja GETSMANI Jember menyebut mereka dengan sebutan GETSMANI Jember ini terletak di bagian Barat maka dapat disingkat dengan GPIB (Gereja Protestan Indonesia bagian Barat). Pendeta Nico adalah pendeta generasi ke-16 dari awal adanya GETSMANI Jember ini, GETSMANI Jember ini memiliki sistem mutasi dari daerah ke daerah lain yang akan ditugasi sebagai pendeta. Pendeta Nico mutasi dari Bandung pindah ke Jember dan bulan januari akan mutasi dari Jember ke Samarinda. Setelah Pendeta Nico akan ada pendeta yang akan menggantikannya nanti yaitu Pendeta dari Bali.
C.                 Visi dan Misi GBIP GETSMANI Jember
Diseluruh Indonesian ini ada 355 Jemaat dengan 24 Provinsi termasuk GETSMANI Jember. Visi GPIB ini hanya satu yaitu “Damai Sejahtera Untuk Semua Umat” yang diangkat sebagai tema untuk manjadi payung jemaat karena pedoman mereka sesuai dengan tema tersebut maka tujuan mereka jelas yaitu menyejahterakan  segalanya baik dengan masyarakat maupun dengan alam, mereka menjadikan alam itu sebagai tempat terbaik maka harus dijaga dengan saling mengingatkan agar tidak buang sampah sembarangan agar tidak terjadi banjir.
Ketika terjadi bencana alam maka Jemaat Gereja mengambil bagian untuk berperan didalamnya. Jadi tidak hanya digereja saja tapi juga turun kelapangan untuk memperbaiki yang rusak dan membantu yang lemah. Maka peran pendeta sangat besar untuk memimpin, membina dan membimbing karena setiap Pendeta termasuk Pendeta Nico memiliki 3 tiga tanggung jawab yang sesuai ketentuan dari Gereja yaitu, memimpin, membina dan membimbing agar Jemaat tetap terpelihara dalam keimanan. Jadi Pendeta Nico ini bukan hanya berdiri dimimbar namun juga ikut turun kemasyarakat untuk mengunjungi yang sakit dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.
Sistem penyebaran ajaran GPIB ini tergantung dari Pendeta yang menggembala Jemaatnya karena setiap Pendeta itu memiliki karakter yang berbeda-beda, tapi dengan satu suara yaitu pemberitaan tentang Injil Yesus yang pastinya setiap Pendeta bertanggung jawab atas Jemaatnya untuk membimbing karena Pendetalah yang menjadi pemimpinnya.
Sidang Majlis Jemaat ini adalah sidang yang dilakukan didaerah yang memiliki pimpinan untuk merancang sistem yang akan dipakai digereja itu dan semua hak itu dipegang oleh pendeta, petua dan taken, maka majlis jemaat ini dibentuk untuk mempererat kebersaan jemaat Gereja. Jadi Pendeta, petua dan taken ini kompromi bersama-sama, memutuskan bersama-sama dan lakukan bersama-sama. Pendeta tidak memiliki hak untuk mengontrol jemaat sendirian, jadi semua kebijakan Pendeta atas dasar keputusan bersama. Akan tetapi, semua kebijakan ada dipusat sidang Sinode, sidang Majlis jemaat ini hanya sekedar menyampaikan apa yang ditetapkan oleh Sinode.
Pemimpin tertinggi di GPIB ini ada dipusat Jakarta yaitu pimpinan Sinode. Sidang Sinode ini adalah wadah untuk membentuk visi dan misi selanjutnya untuk jemaat karena semua permasalahan dari berbagai Gereja akan diselesaikan, juga membuat peraturan serta semua yang berkaitan tentang Gereja akan dibawa kesidang Sinode karena Sinode juga memiliki fungsi untuk mengatur semua Jemaat dan juga peting-petingginya. Pendeta yang diutus untuk mengembala jemaat harus bersedia menjadi contoh untuk jemaatnya dan setiap Jemaat yang ingin menjadi Pendeta harus menempuh pendidika khusus seperti pendidikan Teologia dan melakukan tes vikaris dipusat Jakarta untuk menjadi calon Pendeta selama 2 tahun, tes vikaris ini dilakukan pada setiap tahun dan ditempat yang berbeda, contohnya ditahun pertama Semarang dan tahun kedua ditangerang. Setiap Pendeta juga harus mengikuti tes psikologi, tes kesehatan dan tes tulis, disertai dengan perjanjian Pendeta agar siap diutus kemana pun hingga pedalaman juga harus siap.
Kristen Protestan GETSMANI jember jelas dikatakan oleh pendeta Nico bahwa jemaatnya tidak ikut turun dalam masalah partai karena Gereja peninggalan Belanda itu netral tanpa ada hubungan dengan partai dan gereja GETSMANI Jember ini pun tidak boleh menghasut atau mengiming-imingkan jemaat yang lain untuk memilih partai ini dan partai itu, lembaga keagamaan jangan disamakan dengan lembaga kepartaian nanti dapat menimbulkan permusuhan antar pendeta dan semua kebijakan yang ditetapkan pendeta ini demi kemaslahatan jemaatnya agar tidak berpecah-belah antar semasa jemaat khususnya dan antar manusia pada umumnya.
D.                Ibadah GETSMANI Jember
v   Ibadah mingguan dijember, ibadahnya bisa diadakan 2 kali dalam sehari tergantung jemaatnya, ada sebagian jemaat itu hanya bisa ibadah dipagi hari dan ada juga disore hari maka tergantung jemaatnyajika jemaatnya bisa pagi maka ibadahnya dipagi hari 08:00 wib dan jika bisanya disore hari maka disorenya 16:30 wib pada hari minggu.
v   Ibadah keluarga setiap hari rabu sore dan malam, dibentuk beberapa bagian di tempat yang berbeda sesuai dengan tempat tinggal jemaat masinag-masing. Jemaat yang hadir dari semua usia dan jadwalnya ditentukan sektor itu, kenapa ibadah keluarga ini diadakan? Agar semua jemaat baik ibu-bapak, anak-anak, ataupun nenek-nenek semua hadir dan menjadi keluarga berkualitas. Jika diadakan sore maka yang membina jemaat itu pendetanya dan dika malam ada petua atau taken. Jika ibadah keluarga ini diadakan setiap pekan maka setiap hari minggunya diadakan pengumuman yang hadir sekian dan sekian. Setiap jemaat itu membawa persembahan untuk Gereja dengan bentuk syukur tanpa melihat nominalnya dan persembahan ini bukan paksaan melainkan kerelaan hati, kalau tidak ada maka tidak membuat persembahan pun tidak dipaksakan.
v   Ibadah tahunan seperti Natal, Pasca dan jumat agung. Perayaan natal diadakan untuk memperingati hari kelahiran Yesus dan Pasca memperingati hari kebangkitan Yesus dan juga jumat agung dengan memperingati hari kematian Yesus.
v   Ibadah dengan kategori usia seperti, ibadah untuk usia anak remaja dan pemuda.
v   Ibadah untuk kaum perempuan yang menamakan dirinya PKP (Persatuan Kaum Perempuan)
v   Ibadah yang khusus kaum bapak-bapak dan lanjut usia. Jadi semua ibadah yang dilakukan harus dengan kesadaran dan khusuk.
Ibadah yang dilakukan kristen Protestan sangat berbeda jauh dengan ibadah yang dilakukan kristen Katolik, seperti petinggi-petinggi kristen Katolik tidak boleh menikah sedangkan kristen Protestan membolehkankan untuk berkeluarga, akan tetapi pendeta yang berkeluarga tidak boleh menikah dengan memiliki dua istri, namun jika istri pertama meninggal diperbolehkan, ada hal yang fatal dipernikahan ini menurut kristen Protestan yaitu, pendeta yang cerai atau masalah keluarga karena pendeta itu adalah sebagai panutan jemaat jadi pendeta itu harus tetap menjadi figur yang baik dimata jemaatnya.
Orang meninggal dari kalangan kristen Protestan boleh dikubur juga boleh dibakar sesuai dengan keinginan keluarganya dan yang mengikuti penguburan atau pembakaran mayat itu  dianggap ibadah, kerana menurut paham mereka dikubur dan dibakar itu sama saja. Pendeta itu bukan hanya lelaki tapi juga ada perempuan bahkan paling banyak, dengan kategori telah lulus tes vikaris dan setiap Gereja itu hanya memiliki satu Pendeta karena tergantung Jemaatnya, jika Jemaatnya banyak maka pendetanya diutus dua orang. Dijember sendiri hanya memiliki 150 Rumah Tangga yang menganut Kristen Protestan jadi tidak terlalu membutuhkan banyak Pendeta.
E.                 Agenda Seluruh Petinggi GPIB
Dalam Gereja itu memiliki agenda tahunan yang bertempat dipusat yang disebut Sidang Sinode Tahunan yang membahas satu tema untuk menjadi payung atau acuan untuk semua Gereja Protestan se-Indonesia hingga pedalaman, tama tahun lalu adalah “Mengembangkan Sumber Daya Insani” dan setiap tahun itu berubah, tema untuk tahun ini adalah “Damai Sejahtera Untuk Semua Umat”tema ini yang menjadi acuan para jemaat untuk menjadi patokan mereka dalam menjalani peribadahan.
Perumusan tema ini ditentukan oleh musyawarah dan ditetapkan dipusat yang disebut Sidang Sinode Tahunan dan setiap Gereja mengutus Pendetanya untuk mengikuti Sidang Sinode itu. Ini barada dalam lingkup Sinode, adalagi yang dimaksud dengan lingkup MUPEL (MUsyawarah PELayanan), MUPEL se-jawa timur ini memiliki 48 gereja GPIB yang akan mengadakan setelah Sidang Sinode dijakarta, adanya lingkup MUPEL ini untuk membahas tema yang diangkat diSinode agar jelas program kerja yang akan dihadapi didaerah dimana pendeta itu diutus, seperti pendeta Nico. Selain MUPEL ini ada juga namanya REGIO adalah wadah kebersamaan jemaat.
Ditingkat jemaat pun ada pertemuan yang diagendakan untuk kebersaan antar jemaat itu sendiri dan menerapkan hasil tema yang telah ditetapkan diSinode karena walau bagaimana pun tema itu tidak dapat diubah tanpa sepengetahuan Sinode pusat karena tema itu akan menjadi payung bagi setiap jemaat. Tema itu sendiri diambil dari kitab-kitab kristen Protestan seperti perjanjian lama dan perjanjian baru.
Penerapan tema yang diputuskan oleh Sinode akan berbanding lurus dengan keadaan saat atau tahun itu juga sesuai dengan keadaan Indonesia, di sidang Sinode akan dibahas mengenai tema yang diputuskan, apakah berdampak baik untuk jemaat atau hanya sebagai payung saja tanpa memberikan dampak yang berarti bagi jemaat. Misalnya tema yang akan diangkat sebagai payung ini adalah masalah toleransi yang akan dikondisikan sesuai dengan keadaan Indonesia, dan dengan tema ini akan membantu untuk menjawab permasalahan in.
Tugas majlis jemaat yang akan memahamkan seluruh jemaat dalam lingkupnya atas tema yang ditetapkan Sinode pusat, agar tidak ada dari jemaat yang salah memahami tema yang jadi payung seluruh itu, seperti Aceh, mereka memiliki konsep untuk memahami tema yang menjadi payung jemaat.
Tema yang akan ditetapkan Sinode itu adalah tema yang menjadi acuan kerja para pendeta dan jemaat, karena dengan tema itu jemaat mudah diarahkan untuk beribadah dengan khusuk kepada tuhannya. GBIP GETSMANI Jember ini murni peninggalan Belanda, maka dengan mungkin ajaran yang diterapkan oleh pendeta-pendeta Indonesia adalah ajaran yang dianut di Belanda juga.
Foto bersama dengan Pendeta Nico di depan Gereja GETSEMANI Jember, Gereja kristen Protestan yang ada di Jember dan hanya ada satu-satunya gereja Protestan.

     



[1]. Martin Luther (lahir di Eisleben, Kekaisaran Romawi Suci, 10 November 1483 – meninggal di Eisleben, Kekaisaran Romawi Suci, 18 Februari 1546 pada umur 62 tahun) adalah seorang pastur Jerman dan ahli teologi Kristen dan pendiri Gereja Lutheran, gereja Protestan, pecahan dari Katolik Roma. Dia merupakan tokoh terkemuka bagi Reformasi. Ajaran-ajarannya tidak hanya mengilhami gerakan Reformasi, namun juga memengaruhi doktrin, dan budaya Lutheran serta tradisi Protestan. Seruan Luther kepada Gereja agar kembali kepada ajaran-ajaran Alkitab telah melahirkan tradisi baru dalam agama Kristen. Gerakan pembaruannya mengakibatkan perubahan radikal juga di lingkungan Gereja Katolik Roma dalam bentuk Reformasi Katolik. Sumbangan-sumbangan Luther terhadap peradaban Barat jauh melampaui kehidupan Gereja Kristen. Terjemahan Alkitabnya telah ikut mengembangkan versi standar bahasa Jerman dan menambahkan sejumlah prinsip dalam seni penerjemahan. Nyanyian rohani yang diciptakannya mengilhami perkembangan nyanyian jemaat dalam Gereja Kristen. Pernikahannya pada 13 Juni 1525 dengan Katharina von Bora menimbulkan gerakan pernikahan pendeta di kalangan banyak tradisi Kristen.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pengaruh perbedaan qira’at terhadap penetapan hukum

ALQUR’AN