Mencintai Allah dengan Benar

Berbicara tentang cinta, sejak dahulu para filosofis maupun urafa telah membahasnya sedemikian rupa dimana hal tersebut menunjukkan betapa besar peran cinta dalam kehidupan manusia dan keberadaan sekaligus kelangsungan alam semesta ini.
Dalam sejarah filsafat kita bisa lihat besarnya perhatian yang diberikan Plato terhadap makna cinta, dalam dunia filsafat Islam baik dari aliran Isyraq maupun Massya’ yang masing-masing diwakili oleh Sahrawardi dalam karyanya “Munis Al-Ussyaq” dan Ibnu Sina dalam “Risalah Al-Esyq“. Tak ketinggalan Ikhwan Al-Shofa dalam kitab “Risalah Ikhwan Al-Shofa“. Para Urafa dalam karya-karya mereka menunjukkan bahwa cinta memiliki peran yang sangat penting dalam proses perjalanan mereka menuju kekasih sejati mereka, kita bisa perhatikan dalam kitab-kitab mereka seperti: Risalah al-Qusyairiah atau Kasyful Mahjub. Khajah Abdullah Ansari dalam kitab “Kanz al-Salikin” bab pertama yang ia bahas berjudul Maqalat Al-Aql wa Al-Esyq, Najmuddin Ar-Razi yang lahir setelah Ibn Arabi –kurang lebih 13 tahun sepeninggalnya– telah menulis Risalah Al-Aql wa Al-Esyq. Alhasil, ini semua sebagai bukti bahwa cinta merupakan unsur terpenting dalam wujud alam semesta menurut persepsi para filosofis dan urafa.
Dalam banyak pembahasan tentang fungsi keberadaan Insan Kamil (manusia sempurna) sebagai Khalifah Allah dan penghubung pancaaran anugerah Ilahi pada alam semesta ini. Maka keberadaanya pun pada setiap zaman merupakan suatu keharusan, karena jika tidak (walaupun hanya sesaat saja) niscaya alam semesta ini akan hancur karena salah satu fungsi Insan Kamil adalah sebagai poros perputaran wujud alam semesta ini. Telah ditekankan oleh  Ali bin Abi Tholib ra, dalam khotbah beliau yang terkenal dengan khotbah “Syiqsyiqiah” beliau berkata: “… Sementara ia (Ibn Abi Qohafah) mengetahui bahwa kedudukanku padanya (alam semesta) seperti kedudukan poros pada putaran penggilingan…”. Tentu kita tahu akibat perputaran sebuah alat penggiling yang tidak berporos, yang jelas tidak akan terwujud proses penggilingan atau bahkan dapat menghancurkan alat penggiling itu sendiri.

Kekhususan Insan Kamil yang lain adalah sebagai wakil (khalifah) Allah swt di muka bumi, tentunya harus ada kesesuaian (sinkronitas) antara wakil dan yang diwakili, oleh karenanya bisa disimpulkan bahwa ia adalah makhluk yang paling sempurna dalam penjelmaan sifat Jalal dan Jamal Ilahi, hal ini pulalah yang menyebabkannya menjadi penghubung antara makhluk dan penciptanya, atas dasar inilah dalam doa-doa yang telah dianjukan Rosulullah agar setiap insan yang menginginkan kecintaan dari Allah Swt. maka seringlah meminta agar Allah swt mencintainya sebagaimana kita mencintai Allah swt. disebutkan: “…Barang siapa yang menginginkan Allah swt maka harus memulainya dari dirinya sendiri…”. Kata ‘menginginkan Allah’ bisa diterapkan dalam banyak hal termasuk kecintaan terhadap Allah, oleh karenanya mustahil orang akan bisa mendapat dan mencapai cinta Ilahi tanpa melalui kecintaan terhadap dirinya sendiri, cintailah dirimu maka Allah akan mencintai dirimu.
Sebagaimana untuk sampai pada kecintaan Ilahi; harus melalui jalan petunjuk yang telah ditentukan oleh Allah swt berupa al-Quran yang disifati sebagai:
“… Petunjuk bagi manusia dan penjelas…” (Q.S:1:185)
Maka berdasarkan Al-Qur'an yang Allah turunkan melalui Jibril kepada Nabi Muhammad Saw, cintalah yang dapat menyatukan kita dengan Allah melalui bacaan-bacaan Al-Qur'an yang kita lakukan karena didalam AL-Qur'an itu banyak sekali ayat-ayat yang menerangkan kecintaan Allah kepada mkhluk-Nya.
1. Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(3:31).
2. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.(16:107).
3. Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,(49:7)
Diayat yang pertama kita lihat bahwa Allah tidak merugikan manusia yang setia mengikuti Allah bahkan Allah juga akan menghapuskan dosa-dosa yang kita lakukan. Tidak hanya itu Allah juga mengetahui kepentingan-kepentingan manusia sehingga Allah tidak memberlakukan hambanya secara egois, karena Allah juga menyuruh kita untuk menintai dunia, bukan berarti kita melupakan akhirat yang akan menjadi tempat tinggal kita selama-lamanya maka jalan yang kita tuju untuk mendapatkan kecintaan Allah haruslah jelas karena Allah tidak suka diduakan atau kecintaan kita terhadap dunia lebih besar dari pada cinta kepada Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pengaruh perbedaan qira’at terhadap penetapan hukum

ALQUR’AN