CIRI MATA PENYEJUK DAN PEMBERSIH HATI
Perlu kita ketahui bahwa, mata adalah
sebab dari segala suatu kebaikan dan keburukan bisa terjadi maka
pandai-pandailah kita mempergunakannya, sebab jika mata yang mengarahkan
anggota tubuh kita maka kecondongan hatilah yang akan mengikutinya, namun walaupun
demikian hati akan mampu mengontrol kejadian segala aktivitas yang hendak kita
lakukan. Akan tetapi tidak seberapa kuat hati mempertahankan keinginan hati
karna hati hanyalah sebagai pengingat untuk kita, mengingatkan yang salah atau
baik suatu ha yang ingin kita kerjkan maka hati juga bisa jadi ikut terjerumus kearah
yang tidak baik, apabila mata telah berkuasa diatas keburukan sehingga hati pun
tidak dapat mengtakan inilah yang terbaik, hingga hati merasa tidak tentram
yang sesungguhnya dan juga tidak dapat menjadi pembersih dari kotoran yang
menutup mata hati dari cahaya kebenaran Allah swt.
Dibawah ini kita dapat mengetahui
bebarapa ciri mata yang mampu menyejukkan dan membersihkan hati dari kotoran
tersebut berdasrkan Al-Qur’an dan Hadits:
1. Menundukkan pandangan
Q.S
Al-Isro’: 32 mengatakan janganlah kamu mendekati zina karna itu
perbuatan keji. Menurut SAYYID QUTHB Dalam kitab tafsirnya tafsir Fizhilalil
Qur’an, Al-Qur’an telah melarang untuk
tidak mendekati zina, dalam rangka untuk menunjukkan sikap kehati-hatiandan
tindakan antipasif yang lebih besar. Karena perbuatan zina ini terjadi atas
dorongan nafsu birahi yang sangat kuat , karena itu sikap hati-hati untuk
mendekati perbuatan ini lebih bisa menjamin agar tidak terjatuh didalamnya. Dengan mendekati faktor-faktor
yang menyebabkan perzinaan, tidak ada jaminan bagi seseorang untuk tidak
melakukannya.
Ø
Dengan itu Islam sangat melarang:
-Campur aduk (ikhtilaath)laki-laki dan perempuan, kecuali dalam keadaan
darurat,
-Berdua-duaan,
-Mempertontonkan aurat/perhiasan
perempuan.
Ø
Dengan itu Islam membolehkan:
-Memotivasi untuk menikah bagi yang
mampu,
-Berpesan kepada mereka yang belum mampu
untuk menikah agar berpuasa,
-Memberi sanksi yang berat bagi pelaku
zina.
2. Memalingkan pandangan
Setelah terpandang tanpa disengaja maka
segeralah berpaling dan jangan berlama-lama (H.R Muslim 4/1627) dari Syarah dan
Terjemahan Riyadhus Shoihin bab Haram Melihat Wanita Yang Bukan Muhrim Tanpa
Kepentingan Syar’i.
3. Menjaga pandangan dari hal-hal yang haram.
Salah
satu sarana yang dapat merusak cara kerja hati yang bersih untuk menjaga
seluruh tubuh adalah mata, mata inilah yang akan menentukan bersihnya hati
seorang muslim sehingga akan dipertanyakan keimanannya, karna mata dapat
menjerumuskan seluruh anggta badan kearah yang tidak dibenarkan agama(syari’at).
Bagaimana
mungkin gara-gara mata bisa mengakibatkan seluruh anggota badan terkena
kebaikan atau keburukan...!?
Bisa
dilihat dan dicermati dalam surat ke-24 (An-Nur ayat 30-31) yang menjelaskan
bahwa karna matalah yang mengakibatkan kemaluan mengiyakan apa yang dilihat
mata, hingga ALLAH SWT menyuruh kita untuk menundukkan pandangan terhadap lawan
jenis yang tidak halal bagi kita, dan juga karena matalah kesuksesan yang dapat
kita gapai dunia dan akhirat yang banyak ALLAH terangkan didalam Al-Qur`an
dengan berbagai jenis tipe manusia yang ALLAH sukseskan didunia dan akhirat seperti
ROSULULLAH saw, sang teladan kita semua umat manusia dan juga mereka yang
disesatkan ALLAH dari jalannya. Maka untuk mendapatkan kesuksesan itu bisa kita
dapatkan dari seluruh anggota badan kita jika kita mengarahkannya kejalan yang
benar dan semua yang kita lakukan juga tidak pernah lepas dari pengontrolan
hati tapi hati juga bisa dikontrol oleh mata, jika mata melihat yang baik maka
baik pula yang diinformasikan oleh hati untuk dikerjakan tapi jika yang buruk
saja yang dilihat mata maka setiap apa yang kita lakukan akan lebih condong
kepada yang buruk pula, inilah sebabnya ALLAH menyuruh kita insan yang berakal
agar menundukkan pandangan terhadap hal-hal yang dapat mengarahkan kita kepada
kemaksiatan karena dengan itu maka kita akan terhidar dari kemaksiatan.Dalam
sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging,
apabila baik maka akan baik pula seluruh jasadnya dan apabila daging itu buruk
maka akan buruk pula jasad seluruhnya, ketahuilah bahwa dia adalah hati
(Muttafaq ‘alaih).
Hadits di atas menunjukkan betapa pentingnya peranan hati dalam
kehidupan manusia. Imam Ghozali mengatakan bahwa taat kepada Allah dengan tidak
menurutkan hawa nafsu dapat mengkilatkan hati, sebaliknya berdosa kepada Allah
akan menghitamkannya. Senada dengan Imam Ghozali Muhammad Ibrahim Salim
mengatakan (1995) pengaruh dosa dalam hati sama dengan pengaruh penyakit pada
tubuh. Dosa adalah penyakit hati dan tidak ada obatnya kecuali dengan bertobat
untuk menghilangkan dosa yang mengkotori hati. Dengan demikian dosa akan
menyebabkan hati menjadi sakit dan untuk mengobatinya adalah obat-obatan yang
berupa amal ibadah.
1. Dzikir
a)
Membuat hati bersih dan bening, tenteram dan tenang
sebagaimana disebutkan dalam Qur’an Surat Ar-Ra’du ayat 28 :
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’du: 28).
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’du: 28).
b)
Hati merasa Ridla
Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbihlah pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya hatimu merasa ridla. (QS. Thaha: 130).
Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbihlah pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya hatimu merasa ridla. (QS. Thaha: 130).
c)
Diingat Allah dan dipenuhi rahmat dan ketenteraman,
sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Saw.
Tidak ada majlis suatu kaum yang di dalamnya ada mengingat Allah, kecuali akan diliputi oleh para malaikat dan dipenuhi dengan rahmat, dan Allah akan mengingat mereka di sisi-Nya (HR. Muslim) (Ibnu Hajar Al-Asqolani, 1976).
Tidak ada majlis suatu kaum yang di dalamnya ada mengingat Allah, kecuali akan diliputi oleh para malaikat dan dipenuhi dengan rahmat, dan Allah akan mengingat mereka di sisi-Nya (HR. Muslim) (Ibnu Hajar Al-Asqolani, 1976).
d)
Menimbulkan rasa dekat, dalam perlindungan dan
pertolongan Allah, sebagaimana firman-Nya: Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku,
niscaya Aku ingat (pula) kepadamu… (QS. Al-Baqoroh: 152).
Rasulullah Saw bersabda :
Allah Ta’ala berfirman : Aku beserta hambaku selama ia sebut-Ku dan bergerak dua bibirnya pada menyebut-Ku (Ibnu Majah) (Ibnu Hajar As-Qolani: 1976).
Rasulullah Saw bersabda :
Allah Ta’ala berfirman : Aku beserta hambaku selama ia sebut-Ku dan bergerak dua bibirnya pada menyebut-Ku (Ibnu Majah) (Ibnu Hajar As-Qolani: 1976).
e)
Terapi bagi kegelisahan ketika manusia merasa lemah,
sebagai penyangga dan penolong menghadapi berbagai tekanan dan permasalahan
kehidupan.
Firman Allah :
Dan barang siapa berpaling dari mengingat-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (QS. Thaha: 124).
Firman Allah :
Dan barang siapa berpaling dari mengingat-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (QS. Thaha: 124).
f)
Dibersihkan (hati) dari dosa
Bersabda Rasulullah Saw. :
Barang siapa yang berkata (yang artinya): Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya (aku berbakti) sebanyak seratus kali, niscaya digugurkan dari padanya dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih laut (Mutattaq ‘alaihi) (Ibnu Hajar As-Asqolani, 1976).
Bersabda Rasulullah Saw. :
Barang siapa yang berkata (yang artinya): Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya (aku berbakti) sebanyak seratus kali, niscaya digugurkan dari padanya dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih laut (Mutattaq ‘alaihi) (Ibnu Hajar As-Asqolani, 1976).
g)
Disembuhkan dari Penyakit (hati)
Bersabda Rasulullah saw. : Menyebut-nyebut Allah adalah suatu penyembuhan dan menyebut-nyebut tentang manusia adalah penyakit (HR. Al Baihaqi) (Muhammad Faiz Almath, 1993).
Bersabda Rasulullah saw. : Menyebut-nyebut Allah adalah suatu penyembuhan dan menyebut-nyebut tentang manusia adalah penyakit (HR. Al Baihaqi) (Muhammad Faiz Almath, 1993).
2.
Membaca Al Qur’an
Membaca Al Qur’an selain merupakan ibadah juga merupakan cara untuk penyembuhan hati sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an surat Yunus ayat 57: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit (yang ada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”.
Membaca Al Qur’an selain merupakan ibadah juga merupakan cara untuk penyembuhan hati sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an surat Yunus ayat 57: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit (yang ada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”.
3.
Melaparkan Perut/Puasa
Menurut Imam Nawawy (1983) dimaksudkan dalam melaparkan perut ialah tidak banyak makan, dan berhati-hati agar yang dimakannya benar-benar halal. Makanan halal itu pmenjadi pangkal segala kebajikan, sebab barang halal itu dapat menyinari hati sehingga matahati menjadi bersih cemerlang dan ibarat cermin akan kembali mengkilap mampu memantulkan bayangan dan membiaskan sinar. Dalam hadits dinyatakan: “Tiga hal berikut dapat membuat pengerasan dihati yaitu gemar makan, gemar tidur dan gemar menganggur”.
Menurut Imam Nawawy (1983) dimaksudkan dalam melaparkan perut ialah tidak banyak makan, dan berhati-hati agar yang dimakannya benar-benar halal. Makanan halal itu pmenjadi pangkal segala kebajikan, sebab barang halal itu dapat menyinari hati sehingga matahati menjadi bersih cemerlang dan ibarat cermin akan kembali mengkilap mampu memantulkan bayangan dan membiaskan sinar. Dalam hadits dinyatakan: “Tiga hal berikut dapat membuat pengerasan dihati yaitu gemar makan, gemar tidur dan gemar menganggur”.
4.
Shalat Malam
Dalam Al Qur’an terdapat ayat-ayat yang menjadi dasar bagi pelaksanaan shalat malam, yaitu surat Al-Isra ayat 79: “Sebagian waktu malam itu hendaknya engkau gunakan untuk salat tahajud, sebagai salat sunat untuk dirimu, mudah-mudahan Tuhan akan membangkitkan engkau dengan kedudukan yang baik”. Surat Al Muzammil ayat 6: “Sesungguhnya bangun di waktu malam untuk shalat adalah lebih tepat dan bacaan di waktu itu lebih terkesan”. Dan juga Surat Ad Dahr ayat 26: “Dan di sebagian dari pada malam sujudlah kepadaNya dan berbaktilah kepadaNya di malam yang panjang”.
Dalam Al Qur’an terdapat ayat-ayat yang menjadi dasar bagi pelaksanaan shalat malam, yaitu surat Al-Isra ayat 79: “Sebagian waktu malam itu hendaknya engkau gunakan untuk salat tahajud, sebagai salat sunat untuk dirimu, mudah-mudahan Tuhan akan membangkitkan engkau dengan kedudukan yang baik”. Surat Al Muzammil ayat 6: “Sesungguhnya bangun di waktu malam untuk shalat adalah lebih tepat dan bacaan di waktu itu lebih terkesan”. Dan juga Surat Ad Dahr ayat 26: “Dan di sebagian dari pada malam sujudlah kepadaNya dan berbaktilah kepadaNya di malam yang panjang”.
Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda:
“Kerjakanlah shalat malam karena shalat itu merupakan kebiasaan orang-orang
saleh sebelum kamu. Ia mendekatkan kamu kepada Tuhan, menghapus dosa-dosa,
mencegah perbuatan dosa dan menolak penyakit dari tubuh”. (HR. At Thabrany dan
A Turmudziy).
5. Bergaul
Dengan Orang Shaleh
Menurut Imam Nawawi (1983) bergaul dengan orang shaleh artinya hadir di majlis mereka dan memegangi petuah mereka, dan sebaliknya bersikap diam dan menyingkir dari mereka yang gemar berbuat bathil.
Dalam Al Qur’an surat Al Maidah ayat 55-56 Allah berfirman: “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah); Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”.
Selanjutnya dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda: “Hendaklah kalian bersahabat dengan kawan yang tulus hati, karena mereka menjadi hiasan di kala bahagia dan menjadi perisai di saat terjadi bencana”. (Imam Nawawi, 1983: 227).
Berdasarkan kepada firman Allah dan hadits Rasul tersebut maka dapat dikatakan bahwa bergaul atau bersahabat dengan orang shaleh dan menjadikannya sebagai penolong, merupakan jalan yang tepat untuk mengatasi kesusahan termasuk di sini adalah kesusahan hati.
Menurut Imam Nawawi (1983) bergaul dengan orang shaleh artinya hadir di majlis mereka dan memegangi petuah mereka, dan sebaliknya bersikap diam dan menyingkir dari mereka yang gemar berbuat bathil.
Dalam Al Qur’an surat Al Maidah ayat 55-56 Allah berfirman: “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah); Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”.
Selanjutnya dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda: “Hendaklah kalian bersahabat dengan kawan yang tulus hati, karena mereka menjadi hiasan di kala bahagia dan menjadi perisai di saat terjadi bencana”. (Imam Nawawi, 1983: 227).
Berdasarkan kepada firman Allah dan hadits Rasul tersebut maka dapat dikatakan bahwa bergaul atau bersahabat dengan orang shaleh dan menjadikannya sebagai penolong, merupakan jalan yang tepat untuk mengatasi kesusahan termasuk di sini adalah kesusahan hati.
Menurut Aa Gmy ada 5 cara pembersih hati antara lain:
1.
Harus Punya waktu khusus untuk memeriksa diri sendiri.
2.
Miliki Cermin Diri. Orang-orang terdekat dengan kita
adalah cerminan diri kita, suami/isteri, anak, orang-tua, kakak, adik adalah
orang-orang yang benar-benar tahu tentang segala kelebihan dan kekurangan kita.
3.
Miliki guru/ulama pribadi. Cari guru
yang tulus yang mau dengan terus-terang memberi tahu segala yang perlu kita
lakukan dan yang harus kita tinggalkan. Guru yang mau memberi nasehat untuk
kebaikan diri kita.
4.
Manfaatkan orang yang tidak suka dengan kita. Setiap kita
punya orang-orang yang selalu mencari kekuarang kita, mereka tidak
bosan-bosannya mengikuti tingkah laku kita secara diam-diam.
5.
Tafakuri apa yang terjadi. Setiap
peristiwa yang menimpa orang lain, tafakuri dan ambil hikmahnya. Bersyukur
bahwa musibah itu tidak terjadi pada diri kita.
Maka perteballah iman kita dengan
anjuran yang ALLAH swt anjurkan dalam setiap firman-firmannya. Kita yang berkumpul dalam komunitas
atau majlis yang dihadiri oleh laki-laki dan perempuan yang hampir tidak bisa
dihindari akan kebaradaannya maka kita berusaha untuk tidak terjerumus kedalam
lembah dosa, berhati-hatilah dengan setiap panah-panah setan, hal ini dijelaskan
ALLAH dalam surat ke-17 (Al-Isro’: 32), mengatakan janganlah engkau mendekati
zina yang disebut dengan laa taqrobuzzina adalah berpacaran yang mengakibatkan pelakunya ingin melakukan zina. Mendekati sesuatu yang
dapat merangsang nafsu sehingga mendorong diri kepada perbuatan zina juga
termasuk perbuatan mendekati zina.
Begitu pula dengan
perbuatan yang berpotensi mendorong nafsu seperti menonton aurat dan
mengkhayalkannya adalah mendekati perzinahan. Menurut Al-Ghazali, perbuatan keji
(dosa besar) yang tampak adalah zina, sedangkan dosa besar yang tersembunyi
adalah mencium, menyentuh kulit, dan memandang dengan syahwat, semua itu bisa
diakibatkan oleh beberapa sarana-sarana yang dapat terjadinya zina yaitu antara
lain mata (apabila melihat yang buruk atau jelek), telinga (apabila mendengar
perkataan yang tidak bermanfaat), mulut (mengucapkan perkataan yang buruk),
tangan (memegang sesuatu yang jelek) dan kaki (melangkahkannya ketempat yang
berbau maksiat).
Rasul saw, juga melarang perbuatan zina : “Wahai umat manusia, takutlah terhadap perbuatan zina,
karena perbuatan ini akan mengakibatkan enam perkara, yang tiga di dunia dan
yang tiga lagi di akherat. Adapun hal yang akan menimpa di dunia ialah : (1)
menghilangkan wibawa, (2) mengakibatkan kefakiran, (3) mengurangi umur. Dan
tiga lagi yang akan dijatuhkan di akherat : (1) mendapat marah dari Allah, (2)
hisab yang jelek (banyak dosa), dan (3) siksaan neraka (Hadits ini juga ditulis oleh Imam Sayuthi dalam kitabnya Al-Jami’
Al-Kabir, dan Al-Kharrathy meriwayatkan dalam kitab Masawi Al-Akhlak.)”.
Perkataan Rasulullah “menghilangkan wibawa” bagi
pelaku zina memberikan isyarat bahwa pelaku zina akan kehilangan kebersihan
jiwanya dan kesucian dirinya, yang keduanya merupakan sumber kebahagiaan dan
ketenangan hidupnya.
Cara Menghindari Perzinahan
Lalu, bagaimanakah cara
menghindarkan diri dari perilaku zina? Beberapa cara efektif yang bisa kita
lakukan untuk menghindarkan diri dari perbuatan zina adalah sebagai berikut:
1.
Hindari mendekati tempat-tempat maksiat yang dapat memberikan
peluang dan kesempatan untuk berzina. Sekali kita melangkah masuk ke tempat
tersebut, akan sulit untuk berpaling dari beragam kemaksiatan.
2.
Jangan mendekati hal-hal yang menjurus kepada perbuatan zina,
seperti berpacaran, berciuman, berpelukan dengan lawan jenis, menonton film
porno, atau membaca buku-buku yang di dalamnya terdapat konten pornografi.
Mendekati hal-hal yang menjurus kepada zina akan menyebabkan orang tersebut
terobsesi untuk melakukan perzinaan.
3.
Memilih teman bergaul yang saleh dan tidak suka mengunjungi
tempat-tempat maksiat. Sebab, teman yang saleh akan menebarkan kebaikan kepada
temannya, serta selalu mengingatkan tentang bahaya perzinaan.
4.
Menambah ilmu pengetahuan agama dengan menghadiri majelis-majelis
taklim. Selain itu, kita juga perlu mengunjungi orang-orang saleh yang akan
mengingatkan diri untuk selalu waspada terhadap godaan nafsu dan jebakan ilusi
setan dalam perzinaan.
5.
Membaca buku-buku keislaman yang secara spesifik mengingatkan
pembacanya mengenai bahaya perzinaan. Dengan memahami bahayanya, seseorang akan
menyadari pentingnya menghindari zina dalam kehidupan bermasyarakat.
6.
Memba
7.
ca Al-Quran sambil merenungi tafsirnya, mengindahkan sabda-sabda
Nabi, dan mendengarkan nasihat ulama tentang pentingnya menjauhi segala macam
dosa, termasuk berzina dan mendekati zina.
Komentar
Posting Komentar