MENGENAL ALLAH SWT DENGAN TAFSIR AL-QUR,AN
Disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah tafsir yang dibimbing \
oleh Safrudin
Edi Wibowo, Lc.,M.Ag
Disusun
oleh :
Amiruddin
Naibaho
Abd Hamid
Agus
Jailani
PROGRAM STUDI ILMU AL-QURAN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER
Jalan
Jumat Nomor 94 Mangli Jember JATIM
- INDONESIA 68136
Telp . (0331) 487550 Fax. (0331) 427005
Email : stainjember@gmail.com
Telp . (0331) 487550 Fax. (0331) 427005
Email : stainjember@gmail.com
|
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,
segala puji bagi Allah SWT yang telah menciptakan Al-qur’an sebagai perantara
untuk bisa mengenal-NYA. tampa perantaraan kalam-NYA, kita tidak mungkin bisa
mengetahui dan mengenal Tuhan Yang Maha Esa tersebut. Shalawat dan salam semoga
tetap tercurah limpahkan kehadirat Nabi Muhammad SAW, yang telah mengenalkan
Allah SWT pada kita, lewat Hadits-hadits yang beliau ajarkan untuk semua
umatnya terutama umat Islam
Makalah ini disusun
agar para pembaca bisa mengetahui dan mengenal Allah SWT dari segi Tafsir
Al-qur’an. Dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah SWT
akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini memuat
tentang “ Mengenal Allah SWT Dari Tafsir Al-Qur’an”, tema ini sengaja dipilih
karna sangat menarik bagi penulis. Sungguh ironi kalau kita tidak bisa mengenal
Allah SWT dari kalam ilahi-NYA yang merupakan petuah langsung dari sumber yang
langsung pula. Makalah ini juga memerlukan dukungan langsung dari para
pemerhati al-qur’an untuk dicermati dan diteliti.
Penyusun juga
mengucapkan banyak terimakasih kepada guru/dosen yang telah memberi banyak
bimbingan untuk menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan
wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan
dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.
Jember,
01 Maret 2015
|
DAFTAR ISI
HALAM JUDUL.................................................................................. i
DAFTAR ISI......................................................................................... ii
KATA
PENGANTAR......................................................................... iii
PENDAHULUAN................................................................................. 1
A. Latar Belakang.......................................................................... 1
B. Rumusan Masalah..................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan....................................................................... 1
PEMBAHASAN.................................................................................... 2
A. Tafsir
Surat Al-Ikhlas Ayat 1-4................................................ 2
B. Tafsir
Surat Al-Isra’ Ayat 110-111.......................................... 5
C. Tafsir
Surat Al-Hasyr Ayat 22-24............................................ 8
BAB III PENUTUP............................................................................. 12
A. Kesimpulan................................................................................ 12
B. Saran........................................................................................... 12
DAFTAR
PUSTAKA........................................................................... 13
PENDAHULUAN\
A.
Latar Belakang
Orang
Musyrik beranggapan bahwa Tuhan itu banyak, Tuhan butuh bantuan terhadap yang
lainnya. Tapi, kita sebagai umat Islam sejati, harus mempercayai bahwa Tuhan
itu Maha Esa, Tuhan tidak membutuhkan yang lainnya, dan Tuhan yang haq hanyalah
Allah, dan kita harus mengetahui bahwasanya Allah juga mempunyai nama-nama
agung yang lainnya. Dan kita juga harus mengetahui sifat-sifat Allah dan
sesuatu yang berhubunyan dengan ketuhanan (Allah). Oleh karena itu, dalam
makalah ini kami akan mencoba memaparkan tentang ayat-ayat yang berhubungan
dengan keesaan Allah.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana konsep Allah dalam surat Al-Ikhlas Ayat 1-4
2.
Bagaimana konsep Allah dalam surat Al-Isra’ Ayat 110-111
3. Bagaimana
konsep Allah dalam
surat Al-Hasyr Ayat 22-24
C.
Tujuan Penulisan
Adapun makalah ini kami
tulis dengan tujuan :
1.
Mengetahui konsep Allah dalam surat Al ikhlas
ayat 1-4
2.
Mengetahui konsep Allah dalam surat Al isra’
ayat 110-111
3.
Mengetahui konsep Allah dalam surat Al hasyr
ayat 22-24
PEMBAHASAN\
A. Tafsir
Surat Al-Ikhlas Ayat 1-4
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2)
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
Artinya:
1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. 2. Allah adalah Tuhan yang
bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3. Dia tiada beranak dan tidak pula
diperanakkan. 4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
a) Asbabun Nuzul
Adh-Dhahaq
meriwayatkan bahwa kaum musyrik pernah mengutus Amir ibn Thufail menghadap
Rasulullah. Amir mengatakan kepada Nabi atas nama mereka: “Engkau telah
memecahkan tongkat (persatuan) kami, dan engkau telah mencaci tuhan-tuhan kami.
Engkau juga telah menentang agama nenek moyangmu sendiri. Jika engkau merasa
miskin, maka kami akan jadikan engkau seorang yang kaya. Dan jika engkau gila,
kami akan mengobati. Dan jika engkau mencintai seorang wanita, maka kami akan
nikahkan dengannya”. Kemudian Nabi SAW menjawab “Aku tidak miskin, tidak gila
dan tidak mencintai wanita. Aku adalah Rasulullah. Aku mengajak kalian dari
penyembahan berhala kepada penyembahan Allah”. Kemudian mereka mengutus Amir
sekali lagi. Mereka berpesan kepada Amir, “Katakanlah kepada Muhammad;
jelaskanlah Tuhan yang disembahnya! Apakah terbuat dari emas atau perak?”.
Kemudian Allah menurunkan surah ini.[1]
b) Munasabah
Ayat-ayat dalam surat ini saling
berkaitan antara satu dengan yang lainnya, yaitu menetapkan keesaan Allah
secara murni dan menafikan segala macam kemusyrikan
terhadap-Nya.[2]
c) Tafsir
Tafsirul Mufradat:
Ahad: satu, tidak banyak. Dzat-Nya satu.
Allah tidak terdiri dari unsur-unsur kebendaan yang beraneka ragam dan bukan
terdiri dari bahan pokok lainnya.
Ash-Shamad: yang selalu menjadi tempat
bergantung ketika dalam keadaan yang penting (tempat meminta).
Al-Kafu’
& Al-Mukafi’:
yang menyamai-Nya, dalam hal kemampuan dan kekuasaan-Nya.[3]
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Katakanlah
hai Muhammad kepada orang yang bertanya kepadamu mengenai sifat Tuhan, “Allah
itu Esa. Maha Suci dari bilangan dan susunan. Sebab, jika dzat itu berbilang,
maka berarti Tuhan membutuhkan semua bentuk kumpulan tersebut, sedang Allah
tidak membutuhkan sesuatu apapun.[4]
Kata “ahad” bermakna Ahadiyyatul
Wujud, keesaan wujud. Karena itu, tidak ada hakikat kecuali hakikat-Nya dan
tidak ada wujud yang hakiki kecuali wujud-Nya.
Segala maujud yang
lain hanyalah berkembang atau muncul dari wujud yang hakiki itu dan berkembang
dari wujud Dzatiyyah itu. Oleh karena itu, Ia adalah keesaan pelaku. Tidak ada
selain Dia sebagai pelaku yang hakiki terhadap sesuatu di alam wujud ini.[5]
اللَّهُ الصَّمَدُ
Allah-lah
yang menjadi tempat bergantung semua hamba-hamba-Nya, dan mereka juga
menghadapkan dirinya kepada-Nya untuk meminta agar permintaan mereka itu
dikabulkan.[6]
ayat ini
menjelaskan kebutuhan makhluk kepada-Nya, yakni hanya Allah Yang Maha Esa
itulah tumpuan harapan yang dituju oleh semua makhluk guna memenuhi segala
kebutuhan, permintaan mereka, serta bergantung kepada-Nya segala sesuatu.[7]
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
Diriwayatkan
dari Ibnu Abbas, ia mengatakan bahwa tafsir ayat ini ialah: Allah tidak
melahirkan seperti Maryam, dan tidak dilahirkan seperti Isa. Juga tidak seperti
Nabi ‘Uzair yang dilahirkan. Ayat ini merupakan jawaban terhadap keyakinan kaum
nashrani yang mengatakan bahwa Isa Al-Masih adalah anak Allah. Juga merupakan
bantahan terhadap keyakinan kaum Yahudi yang mengatakan bahwa ‘Uzair adalah
anak Allah.[8]
Setelah menjelaskan
bahwa semua makhluk bergantung kepada-Nya, ayat ini membantah kepercayaan
sementara orang tentang Tuhan dengan menyatakan bahwa Allah Yang Maha Esa itu
tidak wajar dan tidak pula pernah beranak dan disamping itu Dia tidak
diperanakkan yakni tidak dilahirkan dari bapak atau ibu. Dia tidak menciptakan
anak, dan juga tidak dilahirkan dari bapak atau ibu. Tidak ada
seorangpun yang setara dengan-Nya dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya.[9]
وَلَمْ
يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Tidak
ada yang menyamai Allah. Ayat ini merupakan jawaban terhadap keyakinan
orang-orang yang bodoh, yang beranggapan bahwa Allah itu ada yang menyamai-Nya
dalam seluruh
perbuatan-Nya. Keyakinan seperti ini juga dianut oleh kaum musyrik arab yang
mengatakan bahwa para malaikat itu adalah sekutu Allah.[10]
Setelah menjelaskan
bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan, ayat ini menafikan sekali
lagi segala sesuatu yang menyamai-Nya baik sebagai anak
atau bapak atau selainnya, dengan menyatakan: tidak ada satupun baik dalam
imajinasi apalagi dalam kenyataan yang setara dengan-Nya dan tidak juga ada
sesuatupun yang menyerupai-Nya.[11]
B.
Tafsir Surat Al-Isra’ Ayat 110-111
Artinya:110.
Katakanlah: "Serulah Allah atau Serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana
saja kamu seru, dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan
janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula
merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu". 111.
Dan Katakanlah: "Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan
tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan dia bukan pula hina yang memerlukan
penolong dan agungkanlah dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.
a) Asbabun Nuzul
Makhul
meriwayatkan, bahwa seorang lelaki musyrik mendengar Nabi SAW mengucapkan dalam
sujudnya, “Ya Rahman, Ya Rahim”, maka dia katakan, “sesungguhnya
Muhammad ber’azam, bahwa dia menyeru satu Tuhan, padahal dia menyeru dua
Tuhan”. Maka Allah lalu menurunkan surat Al-Isra’ ayat 110 (tapi hanya sampai
lafadz “falahul asmaaul husnaa”).[12]
Ahmad,
Al-Bukhari, Muslim At-Tirmidzi dan lainnya, telah mengeluarkan sebuah riwayat
dari Ibnu Abbas. Katanya ayat ini (wala tajhar bishalatika sampai akhir
ayat 110) turun ketika Rasulullah bersembunyi di Makkah (melakukan shalat
secara sembunyi-sembunyi). Apabila beliau shalat bersama sahabat-sahabatnya,
maka beliau membaca Al-Qur’an dengan suara keras. Tapi, apabila hal itu
terdengar oleh orang-orang musyrik, mereka mengecam Al-Qur’an, mengecam yang
menurunkannya dan mengecam orang yang membawanya. Diriwayatkan pula, bahwa Abu
Bakar mambaca Al-Qur’an dengan suara rendah, dan dia mengatakan: aku berbisik
kepada Tuhanku, sedang Dia benar-benar mengetahui hajatku. Sementara itu, Umar
mambaca Al-Qur’an dengan suara keras dan mengatakan: aku mengusir setan dan membangunkan orang
yang mengantuk. Maka setelah ayat ini turun, Rasulullah menyuruh Abu Bakar
supaya meninggikan suaranya, sedang kepada Umar sedikit merendahkannya.[13]
Ibnu
Jarir telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Muhammad Ibnu Ka’ab yang telah
menceritakan, bahwa sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani mereka
mengatakan: kami penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu
(berhala) yang kamu miliki, sedangkan dia (sekutu itu) tidak mempunyai milik.
Dan orang-orang Shabi’in dan orang-orang Majusi mengatakan: seandainya tidak
ada penolong-penolong-Nya, maka niscaya Allah akan terhina, lalu turunlah surat
Al-Isra’ ayat 111.[14]
b) Munasabah
Dalam ayat 110 dan 111 ini berhubungan dengan masalah
keagungan Allah, di ayat 110 dijelaskan bahwa Allah juga mempunyai nama-nama
agung yang lainnya, kemudian di ayat selanjutnya Allah menjelaskan sifat
keagungan Beliau, bahwa Dia tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dan
juga tidak mempunyai penolong.
c) Tafsir
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا
مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى
Katakanlah
hai Rasul kepada orang-orang musyrik dari kaummu yang mengingkari nama
Ar-Rahman: sebutlah nama Allah hai kaumku, atau sebutlah nama Ar-Rahman. Maka,
dengan mana saja di antara nama-nama Allah Yang Maha Agung kamu menyebutnya,
maka hal itu baik. Juga karena semua nama Allah adalah indah, karena semuanya
memuat pengagungan dan pengqudusan terhadap Dzat Maujud Yang Paling Agung,
yaitu pencipta langit dan bumi, sedang kedua nama ini adalah termasuk nama-nama
Allah yang indah itu.[15]
وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا
وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا (110)
Dan
janganlah kamu mengeraskan bacaanmu, sehingga orang-orang musyrik itu
mendengar, lalu mereka mengecam Al-Qur’an, dan jangan pula kamu membacakannya
kepada sahabat-sahabatmu dengan suara terlalu rendah, sehingga mereka tidak
bisa mendengar Al-Qur’an, lalu mereka tak bisa mengambil Al-Qur’an darimu.
Tetapi carilah jalan antara keras dan rendah.[16]
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ
الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ
يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا (111)
Dan
katakanlah kepada Allah Yang Maha Agung dan Maha Sempurna: bagi-Mu-lah segala
puji dan syukur atas segala kenikmatan-kenikmatan yang luas, yang telah Engkau
anugerahkan kepada hamba-hamba-Mu. Disini Allah telah mensifati diri-Nya dengan
tiga sifat:
Ø Bahwa
Dia tidak mempunyai anak. Karena yang mempunyai anak akan menahan segala
anugerahnya demi anaknya saja, dan karena anak itu akan menggantikan bapaknya,
setelah bapaknya meninggal dan binasa. Maha Suci Allah, Tuhan kita, dari yang
seperti itu. Sedang barangsiapa yang seperti itu keadaannya, maka bagaimana pun
dia takkan dapat mamberi anugerah. Dan karenanya, sama sekali tidak berhak
mendapat pujian.
Ø Bahwa
Allah tidak mempunyai serikat dalam kerajaan-Nya. Andaikan Allah mempunyai
serikat, maka tidaklah bisa diketahui, mana diantara keduanya yang patut
mendapat pujian dan disyukuri.
Ø Bahwa
Allah tidak mempunyai penolong karena kehinaannya. Maksudnya, Dia tidak mengangkat
seorangpun sebagai penolong karena kehinaannya, yang dengan pengangkatan
seperti itu, penolong itu akan membelanya dari kehinaan.[17]
Agungkanlah
Tuhanmu hai Rasul, dengan ucapan dan perbuatan yang telah Kami perintahkan
kepadamu, untuk mengagungkan Allah dengannya. Dan taatilah Dia dalam segala
yang Dia perintahkan dan larang kepadamu.[18]
C. Tafsir
Surat Al-Hasyr Ayat 22-24
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ
الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22)
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ
الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ
الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23)
هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ
الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ
الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24)
Artinya: 22. Dialah Allah
yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah
yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 23. Dialah Allah yang tiada Tuhan
selain Dia, raja, yang Maha suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan
Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang
memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
24. Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa,
yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi.
dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
a) Asbabun Nuzul
Dalam
buku-buku asbabun nuzul, saya tidak menemukan asbabun nuzul dari surat ini.
b) Munasabah
Sebelum
ayat-ayat ini telah berulang-ulang disebut nama Allah atau pengganti nama-Nya
serta sifat-sifat-Nya (26 kali menyebut kata Allah dan 16 kali pengganti atau
penyebutan sifat-sifat-Nya) yang kesemuanya menunjuk keagungan Allah, disisi
lain, ayat yang lalu menguraikan tentang keagungan Al-Qur’an, lalu di ayat-ayat
ini berbicara tentang sifat-sifat Allah yang menurunkan kitab suci itu,
sekaligus menunjuk kepada Allah yang disebut berulang-ulang pada ayat-ayat yang
lalu.[19]
c) Tafsiran
Tafsirul Mufradat:
Al-Ghaib: segala alam yang tidak terjangkau
indera dan tidak kita lihat
Asy-Syahadah: benda-benda material yang dapat
kita saksikan
Al-Quddus: yang suci dari segala kekurangan
As-Salam: makhluk selamat dari kedzaliman,
karena Allah menciptakan mereka menurut aturan yang menjamin kemajuan mereka
Al-Mu’min: yang memberikan keamanan, sehingga
setiap makhluk hidup dengan aman
Al-Aziz: yang menang dalam urusannya
Al-Jabbar: yang memaksa makhluk kepada apa
yang dikehendaki-Nya
Al-Mutakabbir: yang sedemikian sombong dan agung
Al-Bari’: yang memunculkan segala sesuatu
pada lembaran wujud, menurut sunnah-sunnah yang diletakkan-Nya dan tujuan yang
karenanya segala sesuatu itu diciptakan
Al-Mushawwir: yang mengadakan segala sesuatu
menurut bentuk-bentuk dan macam-macam bangunnya, sebagaimana dikehendaki-Nya
Al-Asmaul Husna: nama-nama yang menunjukkan
makna-makna indah yang tampak dalam fenomena-fenomena wujud ini. Sistem
kehidupan dan keindahan-keindahan yang ada di dalamnya ini menunjukkan
kesempurnaan sifat-sifat Allah. Dan kesempurnaan sifat menunjukkan kepada
kesempurnaan yang mempunyai sifat.[20]
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ
وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22)
Sesungguhnya
tidak ada Tuhan selain Dia. Segala sesuatu yang disembah selain Dia, baik itu
pohon, batu, berhala maupun malaikat adalah bathil. Dia mengetahui segala
makhluk yang nyata bagi kita dan yang ghaib. Tidak ada sesuatu pun yang
tersembunyi bagi-Nya, baik di langit maupun di bumi. Dia mempunyai rahmat yang
luas dan meliput segala makhluk. Dialah Yang Maha Rahman di dunia dan Maha
Rahim di dunia dan akhirat.[21]
Ayat ini menunjuk-Nya dengan kata “Dia” yakni Dia yang menurunkan Al-Qur’an dan
yang disebut-sebut pada ayat-ayat yang lalu. Dia, Allah Yang Tiada Tuhan yang
berhak disembah, serta tiada pencipta dan pengendali alam raya selain Dia, Dia
Maha Mengetahui yang ghaib baik yang nisbiyy/relatif maupun yang mutlak. Dialah
saja Ar-Rahman pencurah rahmat yang bersifat sementara untuk seluruh makhluk
dalam pentas kehidupan dunia ini, lagi Ar-Rahim pencurah rahmat yang abadi bagi
orang-orang beriman di akhirat nanti.[22]
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ
الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ
الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23)
Dialah Allah yang memiliki segala
sesuatu dan mengendalikannya tanpa larangan dan tidak terelakkan, yang suci
dari segala cela dan kekurangan, yang makhluk-Nya aman dari kedzaliman; karena
Dialah yang mengawasi mereka.[23]
Ayat ini menyebut beberapa sifat-Nya yang dapat menggugah yang taat
mengingat-Nya untuk lebih mendekat kepada-Nya dan mengingatkan yang durhaka dan
lupa kepada-Nya untuk berhati-hati.[24]
هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ
الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24)
Dialah
Allah pencipta segala sesuatu dan memunculkannya ke alam wujud menurut sifat
yang dikehendaki-Nya. Dialah yang sangat mendendam terhadap musuh-musuh-Nya dan
sangat bijaksana dalam mengatur makhluk-Nya, dan Dia mengendalikan mereka
kepada apa yang membawa kebaikan bagi mereka. Dialah yang sempurna qudrah dan
ilmu-Nya.[25]
Penggalan
awal ayat diatas berbeda dengan kedua ayat sebelumnya yang dimulai dengan alladzii
laa ilaaha illaa huwa. Disini langsung dimulai dengan menunjuk-Nya sambil
menyebut sifat-sifat-Nya. Dimulainya kedua ayat yang lalu seperti itu, karena
kesebelas sifat yang disebut disana adalah sifat-sifat yang mesti ada bagi Dzat
yang berhak memiliki alam raya dan kuasa mengendalikannya. Keyakinan tentang
ketuhanan dan kewajiban menyembah Allah semata bersumber dari disandangnya oleh
Allah sifat-sifat tersebut. Dengan demikian, sifat-sifat itu berfungsi sebagai
penjelasan mengapa Ketuhanan hanya milik Allah semata-mata dan mengapa hanya
Dia sendiri yang harus disembah.[26]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Allah
SWT adalah Dzat yang maha sempurna yang berkuasa atas segala sesuatu tampa
adanya intervensi dari selain-Nya Serta tidak ada yang menyamainya.
2. Kekeliruan
pendapat orang yahudi yang mengatakan bahwa nabi uzair adalah putra Allah.
3. Kekeliruan
pendapat orang nasrani yang berpendapat adanya trinitas, yaitu tuhan ayah, ibu
dan anak. 4. Wajibnya bertauhid dan bertanzih didalam kehidupan beragama.
B. Saran.
Bertolak
dari pentingnya memahami Dzat Allah SWT yang sangat penting didalam kehidupan
beragama, penyusun memberikan saran sebagaimana berikut :
1. Sebaiknya
kita segera mengenal Dzat Allah SWT untuk tujuan memperkuat aqidah yang selama
ini dilemahkan oleh para yahudi dan nasrani.
2. Mengenal
Tauhid dan Tanzih beserta sifat-sifat Allah SWT hendaknya ditanamkan kepada
anak yang masih kecil agar keesaan Allah bisa mengakar didalam hati mereka.
Waallahu A’lam Bishowab.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad
Mushthafa Al-Maraghi, 1985, Tafsir
Al-Maraghi, Juz 30, Semarang: Toha Putra
Imam
Jalaluddin Al-Mahalli dan As-Suyuthi, 1990, Terjemah Tafsir Jalalain, Jilid 2, Bandung: Sinar Baru, 1990.
M.
Quraisy Syihab, 2007,
Tafsir Al-Mishbah, Volume 15,
Jakarta: Lentera Hati
Sayyid
Quthb, 2002, Tafsir fi Zhilalil Qur’an, Jilid 24, Jakarta: Gema Insani.
[1] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir
Al-Maraghi, Juz 30, (Semarang: Toha Putra, 1985), Cet.1, Hlm.444.
[2] M. Quraisy Syihab, Tafsir
Al-Mishbah, Volume 15, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), Cet. 10, Hlm. 616.
[5] Sayyid Quthb, Tafsir fi Zhilalil
Qur’an, Jilid 24, (Jakarta: Gema Insani, 2002), Cet. 1, Hlm. 293.
[14] Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan
As-Suyuthi, Terjemah Tafsir Jalalain, Jilid 2, (Bandung: Sinar Baru,
1990), Cet. 1, Hlm. 1183.
Komentar
Posting Komentar